Yuk Berdamai dengan Luka

Posting Komentar

Berdamai dengan Luka

Damai bukan perkara mudah untuk dijalani seseorang, apalagi jika itu berhubungan dengan luka. Berdamai pada keadaan, berdamai pada hal menyakitkan, berdamai pada tantangan di masa depan, bahkan berdamai dengan kepura-puraan yang terus dijalani. Semua perdamaian itu tercipta karena proses paksaan yang mungkin membuat diri sendiri merasa lelah.

Bicara soal damai, kerap kali ada yang mengatakan hal ini kepada dirinya.

“Aku sudah berdamai kok, tetapi keadaan saja yang terlalu menyebalkan. Tidak adil.”

Perkataan tersebut seringkali timbul, seolah dunia yang paling jahat kepada kita. Sedangkan kita sendiri tak sadar bahwa berulang kali kita berbuat tidak adil kepada dunia. Ketika kita senang, lebih banyak waktu dihabiskan untuk berinteraksi kepada kebahagiaan. Ketika kita merasa kurang, mulai membandingkan dengan orang lain. Dan ketika kita lelah, sering kali ingin menyerah.

Aku ingat pada salah satu postingan temanku yang membahas tentang istilah ‘barangkali apa yang ada di hidup kita adalah impian orang lain’. Di postingan tersebut, temanku membahas bahwa orang lain menginginkan berada di posisi kita karena tidak tahu kisah apa yang telah kita lewati. Dan mungkin kalau tahu banyak, mereka tidak akan ingin berada di posisi kita. Namun, bagaimana jika dibalik? Apakah kita akan mau merasakan kesedihan orang lain? Tentu saja tidak. Karena kita terlalu fokus pada kisah kita sendiri.

Pada intinya kita tidak pernah tahu apa yang orang lain lewati, sampai dia ingin memiliki apa yang telah kita miliki. Sering kali kita terbawa pada perasaan sedih terhadap apa yang kita rasakan, lantas melabeli seseorang yang tidak sepaham dengan kita.

Berdamai dengan Luka

Berdamai dengan luka adalah ketika kita dengan senang menerima luka yang dibebankan kepada kita, tanpa menganggap kitalah yang paling tersakiti. Karena tentu setiap orang punya cerita masing-masing, punya luka yang tidak dapat dipahami oleh orang lain. Dan untuk memahaminya kita harus berada di posisi itu, bukan hanya melihat ataupun mendengar.

Nah, sebenarnya gimana sih ciri seseorang yang sudah berdamai dengan diri sendiri? Yuk, kita kupas satu per satu.

 Ciri-ciri Berdamai dengan Luka


Ciri Berdamai dengan Luka

1.      Bersahabat dengan luka

Menerima luka di sini bukanlah kita harus pasrah dalam menerima kesedihan dan berharap dunia akan membaik sendiri. Tidak, konsep berdamai dengan luka tidak seperti itu. Ketika kita merasa sedang diuji oleh keadaan dan kita menyadari bahwa itulah yang terbaik untuk kita, inilah yang dapat dinamakan berdamai dengan luka. Karena pada saat itu kita sudah mampu mengendalikan emosi yang seringkali membuat kita melabeli keadaan dan menerima semua dengan senang ini.

Berusaha menerima luka bukan mengajari seseorang untuk menjadi sosok yang tangguh sampai berani membohongi dirinya sendiri, tetapi memandang luka sebagai sesuatu yang akan memberikan hikmah kepada kita.

2.      Tidak Membandingkan DIri Sendiri dengan Orang Lain

Ini merupakan ciri yang paling klise, semua orang pun mengerti bahwa tidak baik membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kurang bersyukur istilahnya. Namun, membandingkan di sini bukan dalam kenikmatan yang dialami seseorang, tetapi hal-hal kurang baik yang telah seseorang lalui dengan baik.

Seringkali ketika seseorang membuka cerita tentang kisah masa lalu yang telah dilewatinya, kita merasa dia sangat luar biasa. Perjuangannya hebat, membuat kita bukan apa-apa. Cerita tersebut sebenarnya bagus untuk memotivasi kita untuk lebih bersyukur. Namun, kerap kali hal itu membuat kita berpikir bahwa perjuangan kita tidak sebanding dengan perjangan orang lain. Sedangkan setiap orang memiliki porsi masalah masing-masing. Dia memang terlihat hebat dengan caranya, kita pun demikian.

3.      Pendengar Keluhan yang Baik

Sering kali ketika seseorang mengeluh, kita tanggapi dengan setengah-setengah. Setengah peduli dan setengah menghujat. Pemikiran bahwa seseorang itu terlalu suka mengeluh, membuat kita tanpa sadar mengeluhkan diri kita sendiri. Ingat, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk meringankan bebannya. Kalau dia mengeluh, artinya sedang berusaha meringankan bebannya. Dan dia percaya kita bisa menjadi teman untuk membantunya menjadi lebih baik.

Terima saja apa yang dikeluhkan, sembari berkata ke diri sendiri …

Paling tidak, aku tidak diberikan masalah itu. Paling tidak, aku baik-baik sekarang. Paling tidak, aku bisa menyikapi hal dengan baik. Setidaknya dengan cerita ini, aku tahu bahwa aku sedang baik-baik saja. Masa kelam telah berlalu dan sekarang giliranku menolong orang lain.

4.      Muncul Perasaan Tenang Ketika Menghadapi Masalah Baru

Ayo siapa yang kalau ada masalah langsung kesal dan mood-nya hilang? Itu berarti kalian belum berhasil dengan diri sendiri, ya. Orang yang telah berdamai dengan diri sendiri biasanya memandang masalah sebagai sebuah petualangan yang membuatnya merasa akan lebih baik setelah ini. Seberat apa pun masalah itu, dia tidak akan terbawa pada arus. Namun, berusaha menghadapi dan menyelesaikannya.

Eits, tapi bukan berarti tidak boleh sedih ya. Sedih itu boleh, sangat manusiawi. Namun, jangan sampai terbawa pada kesedihan. Cukup legakan hati lalu kuatkan tekad untuk menghadapinya.

Memang melakukan semua itu cukup sulit. Karena sepositif apa pun pikiran kita, pasti ada saat ketika kita lelah dan tidak sadar mengeluh pada dunia. Ditambah ketika ada yang menambah keluhan itu, pasti akan membuat merasa lelah dan menyalahkan cara seseorang dalam menghadapi masalah. Sampai kita tak sadar, kita sudah terlalu jahat kepada semua orang.

Kalau kalian percaya bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini asal mau mencoba, pasti kalian juga akan tahu bahwa untuk dapat berdamai dengan diri sendiri, bukan perkara mustahil. Kita hanya perlu mencoba dan berusaha. Kadang ada yang membuat kita rapuh dan seperti ingin mundur, ya sudah. Nikmati saja. Tapi, jangan benar-benar mundur. Ambil waktu untuk istirahat dan mulailah lari untuk melawan kegagalan.

    Untuk mulai berdamai dengan diri sendiri, ada hal yang dapat kita lakukan, yaitu:

Cara Berdamai dengan Luka

1.       Jangan Menutup Mata

Jangan ketika kita bersedih, kita fokus pada diri kita. Merasa dunia memang sekejam itu, serta tidak ada yang akan mengerti kita. Kelamaan orang-orang yang peduli akan mundur sendiri dan kita akan benar-benar ditinggalkan.

Hargailah apa yang ada, termasuk hal berat yang kita hadapi. Karena kelak kita akan merindukannya.

2.       Mulailah dengan Pikiran Positif

Kalau belum apa-apa kita sudah mengatakan hal buruk, selamanya akan terbawa pada pikiran buruk itu. Masalah mungkin akan terus menghantui kehidupan kita, tetapi bukan untuk membuat kita lemah pada keadaan. Justru sebaliknya, masalah itu akan membuat kita kuat dan dapat memaknai arti kehidupan.

3.       Jangan Trauma kepada Rasa Sakit

Kejadian Buruk di masa lalu seringkali menjadikan kita takut, bahkan sampai menghindarinya. Kita terlalu waspada agar hal tersebut tidak lagi terulang kepada kita. Hingga tanpa sadar kita telah berbuat tidak adil kepada hal baik di sekitar hanya karena trauma itu. Sebaiknya hadapi saja. Kalaupun terulang kembali, setidaknya aka nada penyelesaian berbeda. Lagipula tidak ada kisah tanpa makna jika kita mau melihatnya dari sudut pandang berbeda.

4.       Jangan Menentang Rasa Sakit

Kebanyakan ketika kita merasa sakit atau kecewa, kita menentang harapan yang muncul di diri kita. Merasa kita tidak lagi memerlukan semua itu karena perasaan kecewa yang telah mendominasi diri kita.

Hal itu memang baik untuk menjadikan kita tangguh, tetapi akan menimbulkan efek lain. Perasaan yang bertolak belakang membuat kita justru lebih rapuh atau mungkin akan menyerang mental kita. Sebaiknya turuti saja rasa sakit itu, meski harapan kita tidak akan bisa kita capai. Setidaknya kita biarkan luka itu mengeluarkan muatannya, sambil berjalan menyusuri jalan terbaik. 

Pelan-pelan semua luka akan menemukan jalan yang tak kita duga.

5.       Ceritakan Sedikit Tentangmu

Barangkali ketika kita mau membuka sedikit luka yang kita rasakan, seseorang dapat menjadi obat yang tak terduga. Setiap kepala memiliki sifat tersendiri, mungkin berbagi akan memudahkan kita mendapat solusi. Tapi, jangan bergantung kepada orang lain. Orang lain ada hanya sebagai pemerhati, bukan sang penyelesai masalah. Saran mereka hanya perlu kita saring, tetapi keputusan teta[ di tangan kita. Kalau tidak mau, jangan paksakan untuk diterima. Karena kita yang menjalani hidup, bukan mereka.

6.       Alihkan Waktu Kosong ke Hal yang Kita Senangi

Sering kali kekosongan membuat kita larut pada kesedihan. Kita akan membayangkan rasa sakit itu secara dalam atau malah melakukan hal di batas nalar. Jika kita sedang kalut-kalutnya, usahakan jangan mengosongkan pikiran. Lakukan hal yang kita sukai, menulis misalnya. Atau sampaikan amarah kita ke hal yang lebih dapat merasa tenang. Karena yang terpenting adalah bukanlah keluar dari masalah, tetapi proses kita dalam menghadapi masalah agar dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Begitulah cara berdamai dengan keadaan. Namun, janganlah berpatokan pada apa yang orang lain katakan. Percayakan dirimu sebagai yang terbaik dalam menyelesaikan masalah, karena terkadang orang lain hanya akan menambahkan masalah yang sudah ada. Baca, resapi, dan seleksi. Kalau kita mau berusaha, semua akan menjadi lebih baik.

Semoga kita dapat berdamai dengan luka, mulai dari sekarang.

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

Posting Komentar