Pernah Kecewa

Posting Komentar

Kata 'pernah' yang terdapat pada pertanyaan di atas, menurutku tidak tepat untuk disandingkan dengan kata kecewa. Siapa pun itu, pasti pernah merasa kecewa, tanpa harus ditanya-tanya lagi. Bahkan beberapa dari mereka, ada yang berteman dengan kecewa. 

Sebenarnya banyak sekali kekecewaan yang pernah aku rasakan. Namun, aku bukan tipe orang yang mudah memperlihatkan sisi kecewaku. Aku akan diam, merenung, melupakan, lantas kembali menjadi  biasa; seolah tidak ada yang terjadi. Dan tanpa orang-orang sadari, aku sedang teramat kecewa.

Aku tidak pernah ingin orang lain tahu betapa aku sedang kecewa, hanya agar suasana dapat stagnan dalam ketenangan. Aku tidak suka keributan. Oleh karena itu, aku lebih suka menahan diri, dibanding menyampaikan apa yang aku rasakan. 

Saat ini aku memiliki dua kekecewaan yang belum dapat kusembuhkan. Namun, aku hanya ingin menyampaikan satu di antara keduanya.

Aku kecewa pada seseorang yang sangat penting di hidupku, tetapi tega meninggalkanku tanpa memberikan alasan pasti. Aku kecewa karena kami yang dulunya sangat erat, menjadi renggang dan saling menjauh. Aku kecewa padanya yang tidak mau berbicara padaku. Aku kecewa karena dia berani memupuskan harapanku atas indahnya pertemanan kami, Dan aku kecewa karena dia selalu melakukan kebohongan, hanya agar aku tidak tahu apa yang terpikir di otaknya.

Aku sangat kecewa pada keadaan yang tega memisahkan kami. Namun, yang lebih membuatku kecewa bukanlah dia, tetapi diriku sendiri yang selalu menciptakan celah untuk memicu pertengkaran kami.

Mungkin jika aku dapat menahan diri saat itu, semua tidak akan terjadi. Kami tidak akan bertengkar, dia tidak akan pergi, dan aku pun tidak akan hancur. Atau jika aku lebih giat berjuang, mungkin dia sudah kembali padaku dan kami tidak akan saling menyakiti hingga sedalam ini. Sayangnya, keadaan yang membuat kami berjalan pada arah yang berbeda.

Selama ini Tuhan tidak pernah menciptakanku sebagai sosok pendendam. Berkali-kali kecewa, aku selalu berusaha untuk ikhlas. Aku berusaha menerima semua yang terjadi, meski belum sepenuhnya ikhlas. Setengah hatiku tak henti berharap bahwa dia akan menyadari semuanya, lantas kami saling berbaikan dan kembali berteman dekat.

Aku tahu itu hanya angan, aku pun tidak ingin merealisasikannya. Bagiku, hidup dengan tenang bersama orang-orang yang menyayangiku, sudah lebih dari cukup. Dan aku tidak akan kembali pada masa-masa bodoh itu, sekalipun harus menahan sakit dan kerinduan ini seumur hidup. 

Karena kutahu, dia atau semua orang sekalipun, tidak akan mengerti sakit yang sedang kurasakan.

#30daysjournalingchallenge
#day24
#classicalclover
Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

Posting Komentar