Lingkup Pertemanan

1 komentar
Gadis kecil yang selalu mendambakan menjadi orang hebat itu, kini sudah tumbuh remaja. Masuk dalam dunia SMA, tak juga mengubah jalan takdirnya. Tampaknya Tuhan memang menggariskan gadis itu terus menjadi pejuang, di mana pun dia berada. Seperti saat ini, masa-masa indah SMA yang seharusnya dilalui dengan kenangan manis, harus kembali menempatkannya pada kepayahan. 

Riana Namira, nama gadis itu. Masih dengan harapan menjadi sosok yang hebat, gadis itu kini memasuki lingkup pergaulan yang menempatkannya sebagai sosok 'aneh'.  Tampil sebagai minoritas di antara mayoritas, tentu membuatnya rendah diri. 

"Hidup tenang hingga lulus, sudah cukup kok," ucap Ira dalam hatinya.

Mungkin berbeda dari kebanyakan siswa yang mendambakan dunia SMA, penuh dengan cerita manis tentang persahabatan dan cinta. Ira justru ingin merasakan ketenangan dan terhindar dari gangguan teman-temannya. 

Ira suka menyendiri. Oleh karena itu, tempat paling disukainya adalah meja paling kiri pojok, dekat jendela. Ketika istirahat, tempat yang paling Ira sukai ialah lorong di belakang toilet sekolahnya. Meski ada rumor yang mengatakan bahwa tempat itu ada penghuninya, Ira tidak peduli. Bagi Ira, tempat itu adalah tempat yang paling cocok untuknya. Dia dapat berteriak dan meluapkan seluruh emosinya di sana.

“Kamu dua tahun sekelas sama Ira, ‘kan? Jangan-jangan kamu udah kena sialnya Ira karena dua tahun bareng dia.”

Suara itu membuat kepala Ira menoleh, lamunannya tentang dunia sendirinya pun buyar. Di baris kanan sudut kelasnya, terdapat kerumunan anak laki-laki yang saling bercengkerama. 

“Kalau sampe tahun depan, kamu masih sekelas sama Ira. Fix, kena sialnya Ira,” kata salah satu laki-laki dari kerumuan itu.

“Bukan kena sialnya Ira, Sob. Tapi, dia adalah jodohnya Ira,” sambung anak laki-laki lainnya.

Kerumunan laki-laki tersebut asyik bergurau, sementara yang diguraukan hanya diam dan menahan sakit hatinya. Kepayahan yang sejak kecil Ira rasakan, seakan bertambah parah.

Sudah sejak awal Ira merasa bahwa ini bukan dunia yang pantas untuknya, tetapi takdir yang memaksanya untuk berada di sini. Melihat teman-temannya yang memiliki paras cantik dan tampan, dengan dandanan yang diyakininya tidak dari uang recehan. Serta kubu-kubu pertemanan yang membuatnya terkucilkan, membuat Ira merasa kecil dan ingin pergi dari dunia yang tidak disukainya.

Kadang Ira berpikir, apakah selamanya dia harus hidup dalam sekumpulan orang yang tak berhati. Cara mereka berbicara pun seperti bukan orang yang berpendidikan, seenaknya saja menyimpuk tanpa perasaan.

Sebuah kertas pun Ira keluarkan, bersama dengan pena ungu kesayangannya. Digoreskan tinta pena tersebut pada kertas sucinya.

Manusia hilang hatinya,
Terbawa lari oleh sang rimba,
Aku ialah makhluk kecil,
Tak ternilaikan,
Akankah terus begini?
Tidak bisakah makhluk kecil ini menjadi seseorang yang besar?

Asa adalah penyemangat hidup, sedangkan perasaan sakit merupakan pendorong tercapainya asa. Seberapa mustahilnya asa, manusia tetap berhak atas setiap harapan. Pun dengan seseorang yang sudah besar, bukan berarti akan terus begitu. Roda selalu berbentuk lingkaran, bukan persegi panjang, apalagi jajar genjang. Bisa saja sekarang porosnya ada di atas, tetapi esok akan berubah di bawah. Kecepatan waktu yang menentukannya.

Bagi manusia yang sedang merasa payah, jangan dulu menyerah.
Anggap saja pelangi sedang tersesat arah.

Bagi kalian yang merasa bahagia atas hidup yang sempurna, jangan dulu bangga.
Bisa saja badai sedang dalam perjalanan, menerpa.


Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar