Evanescent - Episode Satu

5 komentar

“Hei!”

Suara panggilan itu mengagetkan Sandi yang baru saja sampai di sebuah kafe. Kehendaknya untuk menenangkan diri di kafe ini, mendadak berubah karena suara panggilan yang entah datang dari mana. Rencananya untuk menjauh dari keramaian seakan tidak dikabulkan semesta. Sepertinya, Sandi tidak akan lagi merasakan tenang.

Hey, it's Hannah. Hannah Baker. That's right. Don't adjust your ... whatever device you're hearing this on. It's me, live and in stereo. No return engagements, no encore, and this time, absolutely no requests. Get a snack. Settle in. Because I'm about to tell you the story of my life. More specifically, why my life ended. And if you're listening to this tape you're one of the reasons why. I'm not saying which tape brings you into the story. But fear not, if you received this lovely little box, your name will pop up. I promise.

Hannah.

Satu nama yang membuat Sandi berdiri lemas pada posisinya. Pikirannya melanglang buana pada sebuah nama yang saat ini belum dapat dilupakannya, nama yang selama tiga tahun terus menemaninya.  Sekaligus nama yang teramat ia rindukan karena tiada lagi dapat dijumpainya di dunia nyata.

Hannah Pramesti, itulah nama yang kini memunculkan rindu mendalam pada hati Sandi. Jika diminta mendeskripsikan pemilik nama indah itu, Sandi masih mampu menyebutkannya secara detail.  Berlesung pipit manis, hidung mancung, bibir tipis, dan memiliki kulit kuning langsat. Hannah merupakan sosok yang sempurna sebagai seorang perempuan. Suara lembut Hannah yang begitu menenangkan Sandi, terutama pada saat Sandi memiliki masalah pada pekerjaannya.  Hannah selalu membuat Sandi merasa tenang.

Kini, tidak ada lagi yang namanya Hannah di hidup Sandi. Tidak sekarang ataupun waktu-waktu berikutnya. Ya, mereka dipaksa untuk berpisah oleh takdir yang kejam. Tidak ada pamit ataupun tanda-tanda perpisahan lainnya. Semua terjadi dengan begitu cepatnya, ketika Hannah dan Sandihendak menyiapkan acara penikahannya. Hal yang Sandi sesali dari kepergian Hannah adalah tentang cerita mereka yang belum tuntas. Bahkan mereka harus bertengkar hebat dan membuat Hannah tersedu karena Sandi tidak menyukai perkataan terakhir Hannah.

“Semalam aku bermimpi, Mas. Aku berada di suatu tempat yang indah, tanpa seseorang pun menemaniku. Perasaanku sangat tenang, seperti tanpa beban. Aku ingin ke sana, meninggalkan keduniawian yang membuatku merasa lelah. Aku ingin lebih dekat dengan penciptaku.”

Baru sekarang Sandi sadari bahwa apa yang dikatakan Hannah saat itu adalah sebuah petunjuk tentang kejadian pahit yang akan memisahkan mereka. Bodoh sekali, Sandi tidak peka jika Hannah ingin berpamitan kepadanya. Dia malah sibuk dengan urusan pekerjannya, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada hal yang menimpa calon istrinya. Hannah meninggal dalam kecelakaan ketika malam-malam ingin menemui Sandi. Nyawanya tak terselamatkan karena ada pendarahan di otaknya. Sandi pun baru tahu mengenai kabar meninggalnya Hannah ketika gadis itu hamper dikebumikan.

Itulah mengapa Sandi merasa bersalah kepada Hannah. Meski kematian adalah takdir dari Tuhan, tetapi keegoisan Sandi-lah yang membuat Hannah pergi malam itu. Dan itu berarti, Sandi-lah yang telah membunuh Hannah.

“Atau mungkin Hannah tidak pernah kecelakaan, tetapi dia bunuh diri,” ucap Sandi yang tiba-tiba memikirkan hal lain tentang penyebab kematian Hannah.

Sandi mulai teringat pada suara yang tadi sempat mengusiknya kemudian memutar tubuhnya untuk mencari tahu di mana sumber suara tersebut. Kemudian didapatinya sebuah meja dengan kursi yang melingkar, dengan beberapa orang yang aktif berdiskusi. Tidak jelas apa yang sedang mereka lakukan, tetapi dalam lingkaran itu terdapat satu perempuan yang memasang wajah ketakutan sambil memegangi sebuah rekaman suara.

See, I've heard so many stories about me now that I don't know which one is the most popular, but I do know which is the least popular. The truth. See, the truth isn't always the most exciting version of things or the best or the worst. It's somewhere in between, but it deserves to be heard and remembered. The truth will out, like someone said once. It remains.

Beberapa tindakan orang-orang di sekeliling perempuan itu, membuat Sandi semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka lakukan. Sandi tetap berusaha mencerna perkataan yang direkam oleh sang perempuan, tentang sesuatu yang sangat menyakitkan mengenai kebenaran.

Sandi jadi teringat jika dulu dia sering tidak ingin mendengarkan pernyataan kebenaran dari Hannah. Sering sekali dia ingin menang sendiri, tetapi dengan sabarnya Hannah menghadapi Sandi. Hannah hampir tidak pernah mengeluh, bahkan di saat Sandi teramat mengecewakannya. Hal inilah yang membuat Sandi semakin berpikir, mungkin saja Hannah mengakhiri hidupnya karena tidak tahan jika harus menghabiskan waktu dengan sikap egois Sandi.

“Hannah,” lirih Sandi kepada perempuan yang sedari tadi merekam suaranya.

Perempuan tersebut menatap Sandi dengan heran, begitu pula dengan orang-orang di sekeliling perempuan tadi. Sandi secara cepat menarik tangan perempuan tersebut dan mencium keningnya. Perempuan itu kaget.

“Aku tidak akan pernah kehilanganmu lagi, aku akan membawamu pergi ke tempat yang lebih indah dari mimpimu. Hannah, jangan tinggalkan aku lagi. Aku mati karenamu.”

Bersambung ...

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

5 komentar

  1. Jangan mati, masih ada hari esok. Saran dari q buat Sandi ye. Heheee

    BalasHapus
  2. Mari kita tengok episode selanjutnya, manteman๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    BalasHapus
  3. Aku mati terjatuh karena pesonamu

    BalasHapus

Posting Komentar