Rindu Tertahan

10 komentar

Semua orang yang kutemui berkata bahwa tidak sepantasnya kita bersama dan saling menyayangi hingga sedemikian dalamnya. Aku berusaha tetap tenang, tidak sekali pun kuindahkan perkataan itu. Bagiku, yang tahu seberapa besar kita saling menyayangi adalah kita sendiri. Namun, tidak tahukah kamu bagaimana hancur hatiku ketika kamu ikut menginginkan agar kita jaga jarak? Aku hancur sehancur-hancurnya.

Menyayangi sesuatu secara berlebihan itu tidak baik, aku pun setuju atas pernyataan itu. Aku selalu berpikir untuk tidak menyayangi sesuatu secara berlebihan karena itu memang tidak baik. Akan tetapi, kamu lain, kamu istimewa. Kamu memiliki banyak hal yang membuatku tidak dapat lepas darimu. Aku tahu kamu tidak menyukai kenyataan ini, bahkan kamu selalu memarahiku ketika aku menganggapmu lebih. Sayangnya, bukan aku menentukan siapa yang boleh kuanggap istimewa, tetapi alam bawah sadarku.

Sebelum mengenalmu, aku adalah orang yang tidak pernah menganggap penting seseorang. Aku biarkan orang mendekat, tetapi tidak kubiarkan mereka menetap dalam hidupku. Aku sudah kenyang dengan kedekatan yang hanya bertahan atas kepentingan. Namun, ketika aku dekat denganmu, aku rasakan hal lain. Semacam ketulusan dalam kedekatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku nyaman, sangat nyaman. Dan kenyamanan itu menciptakan petaka dalam hidupku.

Untuk kamu, orang yang telah menjauh, ingin sekali aku ungkapkan perasaan rindu. Ya, ini berlebihan. Perpisahan adalah keputusan kita, bahkan inilah yang terbaik untuk masing-masing. Namun, aku bisa apa. Alam bawah sadarku ternyata menginginkanmu kembali. Seberapa sering mulutku mengatakan bahwa aku bisa tanpamu, nyatanya jiwaku rapuh tanpamu. Hampa sekali hidupku tanpa rutinitas obrolan kita. Meski tahu bahwa kamu biasa saja tanpa aku, bahkan jauh lebih menyenangkan ketika tiada aku. Alam bawah sadarku tiada pernah berhenti menyebut namamu.

Aku sangat merindukanmu.

Sungguh merindu.

Jika ada cara untuk menghapus namamu dalam pikiranku, aku akan lakukan. Seberapa tersiksanya aku ketika melakukannya, akan kuterima. Mungkin kamu sengaja melakukan ini agar aku tidak tergantung kepadamu, tetapi ini seperti membunuhku secara perlahan. Aku benci sekali dengan keadaan ini, tetapi tidak dapat melakukan apa pun untuk menyelamatkan diriku. Aku terpuruk, sendiri.

Tolong bantu aku, beritahu cara untuk membunuh perasaan rindu dan rasa bersalah ini. Sudah kucoba berbagai cara, tetapi tidak berhasil. Aku hampir gila.

Terakhir, untukmu yang telah menjauh, izinkan aku mengucap kata penyesalan. Andai saat itu aku tidak melakukan hal yang menjurus pada perpisahan kita, mungkin kita masih bersama. Aku menyesal, aku ingin kita dapat sedekat dulu. Meski ketidakmungkinan menjadi jawabnya. Sungguh, aku butuh kamu untuk membuatku menjadi yang lebih baik.

Semoga kamu bahagia dengan hidupmu yang sekarang ini.

Salam rinduku dan sayangku, Untukmu.

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

10 komentar

  1. Semoga rindu kita memberi petunjuk untuk kemana kita pergi. Aamiin

    BalasHapus
  2. Saya jadi ikut rindu dengan nasehat" membangun haha

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Rindu...oh rindu ia datang memang untuk menjadi bumbu, selamat berburu dan meramu hehe

    BalasHapus
  5. Speechless kalau udah menyangkut rindu² gini, sih😭

    BalasHapus
  6. Cuma rindu yang bisa ngertiin..dan semoga rasa rindu terobati meski tanpa dirinya..:)

    BalasHapus
  7. kolom komentar banjir rindu. aku juga pengen rindu ah. rindu istri masa depan yang gak tau ada di mana hahaha.

    BalasHapus

Posting Komentar