Rani Pergi

22 komentar

Mungkin memang sudah menjadi jalan takdir kami, bertemu hanya untuk berpisah. Jika dulu aku yang memutuskan untuk pergi, kini gadis itu yang harus pergi meninggalkanku. Ini bukan keinginannya ataupun keinginanku, tetapi sudah menjadi suratan takdir yang Kuasa. Kami bisa apa? Hanya dapat menerima dan berharap dapat disatukan dalam lain kesempatan, di tempat yang lebih indah.


Rani berkata, "Jangan pernah kamu bersedih atas perpisahan ini ataupun menyalahkan keadaan atas apa yang ada. Percayalah bahwa hanya raga yang menjauh, tetapi hati dan jiwa kita masih menyatu. Asal tidak ada yang berubah secara total. Tersenyumlah dan jalani hidupmu seperti biasa. Janji, ya?"

Aku menganggukkan kepala, meski hatiku masih setengah menerima. Aku dapat melihat di balik binar bahagia Rani, ada kesedihan yang lebih dariku. Gadis itu hanya mencoba berpositif terhadap keadaan.

"Jangan pedulikan aku. Aku akan coba terbiasa sendiri, tanpa kamu. Namun, ketahuilah bahwa hubungan kita terlalu membekas dan membuatku tidak ingin siapa pun menggantikanmu kelak. Untuk itu, izinkan aku menjadi sosok baru yang tidak pernah dekat dengan siapa pun. Sungguh, kehilangan orang yang kita sayangi sangat menyakitkan," ucapku yang membuat Rani menghujaniku dengan nasehat-nasehat bijaknya.

Hari itu akhirnya kami habiskan dengan pertengkaran. Aku sama sekali tidak mau mendengarkan perintah Rani untuk kembali melanjutkan hidupku tanpanya. Keputusanku sudah bulat, aku akan menjadi sosok yang dibenci banyak orang hingga tidak dekat dengan siapa pun agar tidak kembali mengalami fase kehilangan. Rani marah besar dan berikrar untuk tidak mau lagi mengenal orang berkepala batu sepertiku.

Maafkan aku, Rani. Maafkan atas keegoisanku yang telah membuatmu pergi dengan amarah. Andai kamu tahu, melupakan kehilangan telah menimbulkan trauma untukku. Bahkan setelah bertahun lamanya, aku masih belum dapat melupakan hari di mana aku kehilanganmu. Kamu begitu berarti.
Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.
Lebih baru Terlama

Related Posts

22 komentar

  1. Ini perpisahan antara 2 sahabat ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Seratus. Ini memang tentang perpisahan dua sahabat.

      Hapus
  2. Yahh ending nya nyesekπŸ˜…πŸ˜­

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena hidup itu kejam, jadi harus dibuat nyesek 😁😁😁

      Hapus
  3. sinetron banget huhu ditunggu episode selanjutnya

    BalasHapus
  4. Memilih bentengi diri daripada kehilangan lagi..uwoow uwoow..keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Semacam antisipasi kalau suatu saat harus kehilangan lagi.

      Hapus
  5. Ini fiksi apa non fiksi ya, semoga fiksi haha

    BalasHapus
  6. Yaaah jangan dibiarin pergi dong huhuhuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya, takdir terlalu kejam 🀧

      Hapus
  7. Balasan
    1. Sebenarnya kisah nyata, tentang kehilangan sahabat yang sangat disayangi. Cuma adegannya aja yg dibuat-buat.

      Hapus
  8. Hmm ... sad ending. Tapi entah kenapa aku suka cerita sad ending.

    BalasHapus
  9. sepertinya masih bisa sambung silaturahmi dengan saling kirim pesan dan menyampaikan rasa yang terpendam untuk memperbaiki keadaan

    BalasHapus

Posting Komentar