Perilakumu Seperti Anak TK

2 komentar

 
"Perilakumu masih seperti anak TK!

Perkataan demikian sering kali keluar dari mulut orang tua, tanpa mereka sadari bahwa perkataan seperti itu telah menyakiti hati anak. Anak tumbuh dari didikan orang tua, sedikit banyak perilaku yang muncul darinya adalah cerminan dari cara orang tua mendidiknya. Kebaikan dan keburukan anak menjadi tanggung jawab orang tua, sampai anak menemukan pasangan yang mampu mengarahkannya menjadi pribadi yang lebih baik.

Terkadang manusia memiliki dua sisi berbeda, yang tentu tidak ditunjukkan kepada sembarang orang. Perilaku kekanakan contohnya, tak pelak menjadi sifat dasar anak. Tanpa sepengetahuan orang tua, dapat saja anak memiliki pola pikir kritis yang masih tersembunyi. Hanya saja orang tua terlalu nyaman dari apa yang mereka lihat dari anak, tanpa ingin menggali hal lain dari sang buah hati.

Permasalahan seperti ini adalah hal sepele bagi orang tua, bahkan dengan mudah mereka lupakan. Namun, beberapa anak kerap merasa sakit hati atas perkataan tersebut hingga mereka tumbuh dewasa.

Mental anak yang tidak sama rata, menimbulkan penerimaan yang berbeda. Anak yang berjiwa besar akan menerima perkataan pedas orang tua sebagai hal yang memotivasi, tetapi anak yang mentalnya belum siap akan menerima kritikan tersebut sebagai hal yang merendahkan dirinya.

Ketidakpekaan orang tua terhadap perasaan anak menjadi faktor utama ketidakharmonisan keluarga. Bagi anak, orang tua tidak mengerti apa yang diinginkannya. Jangankan meminta sesuatu, berniat untuk mencurahkan isi hatinya pun enggan dilakukan karena takut mendapat amarah.

Perkataan yang mengatakan bahwa anak masih seperti anak TK, padahal dirinya sudah dewasa, pun membuat anak merasa takut jika tidak dapat memenuhi kadar dewasa orang tua. Apabila hal tersebut terus terjadi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan jauh dari orang tua. Lebih parahnya, mereka akan lari ke dunia luar dan rentan terseret pergaulan bebas.

Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa 'Mulutmu adalah Harimaumu', cocok untuk menganalogikan permasalahan semacam ini. Perkataan yang mungkin keluar hanya karena kesal, nyatanya mampu menerkam kepercayaan anak hingga tumbuh menjadi pribadi yang takut terhadap dunia baru. Belum lagi jika perkataan tersebut bersamaan dengan tekanan, akan menimbulkan efek yang mahadahsyat. Contoh saja seperti stres berlebih dan perilaku menyakiti diri sendiri.

Menyikapi hal seperti ini, orang tua harus mulai berbenah dengan melakukan pendekatan psikologis kepada anaknya. Salurkan kasih sayang tidak hanya dengan perkataan pedas, tetapi coba berikan kasih sayang secara lembut dan perlahan kenalkan anak pada cara bersikap dewasa.

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar