Orang Tua dan Psikologis Anak

16 komentar

            Memiliki keluarga yang bahagia dengan kasih sayang berlimpah di dalamnya merupakan impian banyak orang. Namun, bagaimana jadinya jika dalam keluarga tersebut terjadi keretakan yang berakhir pada kata pisah?

Beberapa dari orang tua berpikir bahwa perpisahan adalah jalan yang terbaik dibanding mempertahankan rumah tangga dengan rutinitas pertengkaran. Keluarga yang berantakan diibaratkan sebagai ruangan yang pengap, berdebu, dan mengakibatkan sesak jika terus berada di dalamnya. Jalan untuk kembali merasa hidup adalah keluar dari ruangan tersebut dan mencari tempat yang menyejukkan. Akan tetapi, perginya seseorang dari ruangan pengap itu mengakibatkan ruangan tersebut menjadi semakin tak terurus dan keadaannya jauh lebih usang dari sebelumnya.

            Ruangan pengap adalah gambaran betapa panasnya hawa rumah ketika sedang terjadi percekcokan. Tidak hanya orang tua, anak pun akan merasa tidak betah jika di setiap harinya harus mengalami keadaan yang demikian. Akhirnya masing-masing pergi ke tempat baru, yang lebih menciptakan rasa nyaman. Namun, sering kali rasa nyaman membuat seseorang terlena hingga tidak ingin kembali ke tempat sebelumnya. Padahal setiap permasalahan hadir dengan berbagai solusi dan menyingkir dari masalah bukanlah jalan terbaik.

            Anak mana pun di dunia pasti menginginkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Memasuki usia remaja, anak-anak dibuat berpikir mengenai apa yang ada di hadapannya. Pola pikir anak pada usia remaja belum terbentuk secara matang untuk memahami pemikiran orang dewasa. Terbiasa dengan pertengkaran kemudian dihadapkan pada kehilangan, membuat anak pada usia remaja cenderung kalut. Hal yang memperparah keadaan adalah ketidakhadiran orang tua dalam memberi dukungan morel kepada anaknya dan lebih memilih untuk mementingkan ego masing-masing.

            Tidak sembarang anak mampu menghadapi tekanan akibat pepisahan orang tua. Kesedihan dan kesepian adalah hal yang wajar dialami manusia. Namun, jika kedua hal tersebut datang di saat yang tidak tepat, akan berakibat pada hal buruk.

            Self injury adalah satu di antara sekian banyak dampak yang ditimbulkan dari ketidakharmonisan keluarga. Self injury merupakan keadaan ketika seseorang dengan sengaja menyakiti dirinya sendiri menggunakan benda tajam atau benda tumpul sebagai pelampiasan atas kesedihan, rasa kecewa, kesepian, amarah, stres berlebebihan, serta putus asa.

            Tindakan self injury dapat dipicu oleh beberapa hal, salah satunya ialah salah pergaulan. Melihat seorang teman melakukan kegiatan self injury, dapat memicu teman yang lainnya melakukan hal yang sama. Tentu tindakan tersebut tidak dilakukan secara langsung, tetapi dilakukan pada waktu-waktu berikutnya ketika sedang dalam tekanan.

Seseorang anak usia remaja sering kali melakukan self injury menggunakan silet, dengan menyayat beberapa bagian di pergelangan tangannya. Seseorang yang melakukan self injury akan merasa lega ketika melihat darah dan tidak begitu merasakan sakit atas lukanya. Tindakan self injury diakui cukup menjadi solusi dalam melupakan permasalahan yang ada, meski tidak dalam waktu lama.

            Tindakan self injury memang benar ada dan nyata terjadi di masyarakat, penderita gangguan ini pun akan menutupi luka di tubuhnya dengan berbagai cara agar tidak diketahui orang lain. Mereka yang sudah pernah melakukan self injury, terbiasa melakukannya lagi sebagai efek ketagihan. Keinginan untuk keluar dari zona ini jelas ada, tetapi tidak semudah itu. Penderita self injury memerlukan perhatian lebih dari orang di sekitarnya untuk kembali dalam keadaan normal. Orang tua perlu memperhatikan kondisi hati anak serta mencari tahu apa-apa saja yang sedang dihadapi oleh anak untuk menghindarkan anak dari tindakan self injury.

Tidak menutup kemungkinan self injury menyerang anak yang memiliki keluarga utuh karena tekanan dalam diri seseorang adalah sesuatu yang tidak tampak. Bukan berarti jika seorang anak berperilaku sebagaimana mestinya, sedang dalam keadaan yang baik-baik saja. Justru sebaliknya, mereka yang tampak bahagia, adalah mereka yang menyimpan banyak luka.

            Mungkin saja orang tua menceritakan kekesalan dan kesedihannya kepada anak, hanya untuk mendapat dukungan morel dari sang anak. Akan tetapi, kondisi seperti ini kerap memberi beban tambahan kepada anak hingga tak jarang anak memikirkan persoalan yang dialami orang tua hingga terkena gangguan pada kejiwaannya. Oleh karena itu, orang tua harus lebih memahami perasaan anak dan mengupayakan kasih sayang yang cukup kepada anak-anaknya. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak adalah kunci dalam menghindarkan anak dari tindakan self injury.

*****

Nb.
*Cerita ini ditulis berdasarkan pengalaman seseorang.
*Referensi:

Self-Injury, Gangguan Psikologis Menyakiti Diri Sendiri”. Alodokter. Web. Diakses pada 13 September 2019.

           <https://www.alodokter.com/self-injury-gangguan-psikologis-menyakiti-diri-sendiri>



Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

16 komentar

  1. Beberapa kali menangani kasus ini... Ddduh hati rasanya ikut periih...😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga kebayang beberapa kali menangani ini, aku aja berhadapan sama orang self injury sekali udah panas dingin lihat darahnya Kak .

      Hapus
  2. Wah..istilah baru tapi sering menemui anak-anak dgn perilaku seperti ini. Makasih infonya

    BalasHapus
  3. Orang tua harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami anak-anaknya ketimbang mendahulukan ego kepentingan dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, Kak. Tapi kebanyakan orang tua sibuk dan jarang bertukar pikiran sama anak

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Ngeri juga ya, mereka yang tampak bahagia mereka yang banyak menyimpan luka, mantul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Itu yg aku tahu sih. Mereka yang ceria, biasanya punya luka yg lebih dari mereka yg tampak biasa. Semacam usaha ngibur diri.

      Hapus
  6. Waah dapat ilmu baru. Self Injury=menyakiti diri sendiri. Makasiii
    Baru tau saya

    BalasHapus

Posting Komentar