Tentang Dia yang Membuatku Memilih Pergi

6 komentar

curhatan tentang dia

    Enam Belas September Dua Ribu Dua Puluh ...

    Seharusnya hari itu menjadi hari di mana kami saling berbagi cerita, berbahagia, dan menertawakan kebodohan yang telah kami lakukan setahun yang lalu. 

    Atas nama rasa sayang, kami saling menyakiti. Bodohnya, kami sama-sama mengatasnamakan itu sebagai kebaikan bersama.

    Sampai-sampai aku tiada henti bertanya, apakah ada hubungan pertemanan yang lebih konyol daripada ini?

    Hanya memberi rasa manis di awal, tetapi menyakitkan pada akhirnya.

    Dia.

    Entah bagaimana aku menyebutnya.

    Hanya sesosok orang yang pernah penting di hidupku, meski sekarang hilang maknanya. Yang jelas aku pernah sangat menyayanginya, bahkan pernah memilih hidupku berakhir saat dia tak lagi di sampingku.

    Jika aku diserbu pertanyaan tentang makna seorang dia 'untukku', jujur sekali sulit kujawab. Kasih sayangku padanya tidak seperti dulu. 

    Sebelum badai itu terjadi, aku selalu mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Dialah tumpuan hidupku. Dia satu-satunya orang yang kupandang sempurna, sosok kakak, teman, motivator, bahkan sainganku. Aku kerap menyebutnya sebagai cahaya besar di hidupku, yang dengan energinya dapat menerangi hari-hariku. Namun, dengan besar cahayanya pula dapat membuat hidupku lebih redup daripada dulu. Petang, kebingungan, dan hilang arah. Itulah aku tanpanya.

    Jadi, apakah sepenting itu dia di mataku? Oh, tidak. Bagiku, antara kita sudah selesai dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Sesayang apa pun aku padanya dan seberapa pedih kehilangannya, aku masih punya akal. Tidak mungkin berhenti di satu tempat dan mengulangi hubungan yang jelas sangat merugikan.

    Tepat satu tahun setelah hari itu, dia datang dan kembali mengores luka. Aku yang sudah cukup tegar atas luka-lukanya dulu, kembali menjadi rapuh. Demi apa pun, aku tidak ingin membencinya atas hal yang pernah dia lakukan padaku. Namun, mengapa dunia ingin kami saling membenci? Sampai empat hari berlalu, rasa sakitku atas perkataannya tempo hari masih membekas.

    Mengapa dia harus datang kalau hanya menggores luka?

    Mengapa dia tak henti membuat semua ini menjadi rumit?

    Mengapa dia selalu membuatku berada pada posisi yang salah?

    Dia yang meninggalkanku, dia yang memintaku melupakan segala tentangnya, bahkan dia yang memintaku untuk bersikap biasa. Lalu, apakah dapat aku katakan bahwa dia tidak punya hati setelah aku berjuang bangkit, dia malah datang dan berkata, "Aku belum bisa nyaman ketika berada satu tempat denganmu."

    Sekali lagi aku yang salah. Aku muak! Mengapa lagi-lagi aku yang harus mengertinya. Keberadaanku di tempat itu bukan atas keinginanku, itu kehendak takdir. Akan tetapi, dia membuat kenyamananku hilang.

    Lantas, mengapa aku masih membuatnya tidak nyaman? Bukankah ini sudah satu tahun berlalu?

    Entahlah. Tidak ada alasan yang diucapkannya, mungkin juga dia tidak tahu mengapa bisa begini. Namun, aku katakan padanya, "Kamu bohong! Kamu hanya tidak mau mengakui kalau aku masih penting dan kamu masih mengharapkanku. Pliss, jangan siksa diri kamu. Kamu terlalu takut kita kembali pada kedekatan yang dulu. Demi dirimu, kumohon jujurlah. Sebelum semuanya terlambat."

    Lucunya, dia hanya meminta aku menuruti keinginannya dengan menganggap bahwa keberadaannya tidak ada. Ya, mudah saja aku lakukan. Toh, aku sudah merasa maknanya hilang di hidupku. Namun, aku sadar, dia yang tidak pernah dapat menganggap kehadiranku tidak ada karena hatinya belum sembuh. Entah dia sedang menghukum dirinya atas kebodohannya melepasku atau dia yang sangat membenciku sampai tidak dapat melihatku lagi.

    Oiya, aku jadi teringat dengan mimpi terakhirku. Pada saat itu, aku bertemu dengannya. Aku berkata bahwa ingin bicara padanya. Pada mimpi itu, dia terus menghindar dan berkata 'aku tak bisa'. Dia terlihat ketakutan melihatku, padahal aku hanya ingin meluruskan yang terjadi. Saat mendapat mimpi itu, aku sadari bahwa aku menjadi sosok menakutkan untuknya. Sedangkan aku tidak tahu salahku apa, sampai dia harus setakut itu. Lalu kini aku sadari. Aku tidak salah, dia saja yang tidak pernah berdamai pada kenyataan.

    Andai dia dapat membaca ini, aku ingin menyampaikan hal yang tidak dapat aku sampaikan selama ini.

    "Kamu itu orang terbodoh yang pernah aku kenal. Teganya kamu meninggalkanku tanpa memberi kejelasan apa salahku, sampai membuat hidupku hancur selama setahun. Kamu enggak berhak lagi mengacaukan hidupku. Itu yang perlu kamu ingat! Aku yang mengusahakan sendiri bagaimana harus sembuh dari luka itu, aku pula yang berusaha menormalkan pikiranku. Tapi kedatanganmu pada hari itu, merusak satu tahun perjuanganku. Apa maksud kamu? Kamu tidak suka aku hidup tenang, hah? Mengapa kamu tidak bisa berhenti jadi pengacau? Kalau kamu pikir aku akan diam ketika terus kamu perlakukan seperti ini, kamu salah besar. Lebih baik aku pergi dibanding terjebak pada masa kelam itu."

    Ya, akhirnya aku memilih untuk pergi. Namun, dengan egoisnya dia mengataiku 'overthinking'. Terserah sajalah, memang dari dulu dia suka sekali memandangku remeh. Aku hanya menyahuti omongannya dengan berkata, "Anggap aja aku memang begitu. Lagi pula, kamu tidak akan pernah tahu 'kan apa yang sedang terjadi pada seseorang?"

    Aku masih tidak percaya hal ini terjadi.

    Empat tahun kami kenal, tiga tahun kami dekat, dan satu tahun kami saling tidak berhubungan. Ternyata kalah dengan satu hari yang teramat menyakitkan. Aku bukan orang yang mudah meninggalkan, tetapi dia menjadi orang pertama yang membuatku berani meninggalkan. Rasa sakit ini, entah bagaimana sembuhnya. Terlalu dalam dan nyaris membuatku kembali mati. Andai ada obat untuk melupakan apa yang terjadi antara aku dan dengannya, pasti akan kuminum. Seberapa pahitnya. Sayangnya, ingatan itu tetap harus ada untuk dijadikan pembelajaran agar masa depan lebih baik.

    Satu harapanku, semoga 'kamu' menyadari bahwa hidup ini tidak dapat berpihak padamu. Kelak, orang-orang akan lelah dan pergi. Jika saat itu datang, tidak ada yang dapat diperbuat. Bahkan penyesalan hanya akan membuat dirimu semakin buruk dan kalut. Maka dari itu, jagalah hal-hal yang masih ada dan jelas ada untuk kita. Jangan gengsi, apalagi sering mengutarakan kebohongan. Kerena kebohongan atas dasar apa pun, tidak pernah menjadi hal baik.

    Jangan egois, ya. Banyak perasaan yang perlu kita pikirkan. Di dunia ini kita tidak sendiri, loh.

    Mari hidup bahagia, tanpa menyakiti siapa pun. Percayalah, tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibanding memiliki hidup tenang bersama orang-orang terbaik 😊

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

6 komentar

  1. Ketika kegalauan berubah menjadi karya👍😭🤣debes

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh galau boleh, tp larut jangan. Kalo bisa sih, harus dijadiin karya. Kali aja banyak yg bisa belajar dari kegeblekan ini 🤣

      Hapus
  2. Aku harap, kalian berdua bisa berdamai dengan luka kalian masing-masing.
    P. S. Aku gak marah. Sumpah demi apapun :)
    Tetaplah jd orang yg aku kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin suatu saat luka ini bisa berdamai Kak, tapi enggak untuk waktu dekat. Entah bulan depan atau beberapa tahun lagi ya 😊 Iya, doakan aja aku akan terus menjadi sosok yang Kak Ael kenal

      Hapus
  3. Ughh ... ah ... enggak tau maubkoken apa😔

    BalasHapus

Posting Komentar