3 Kata Tentangku

Posting Komentar


1. Elitz

Aku lupa bagaimana sejarahnya kata elitz menjadi bagian dari diriku, tetapi ini bermula dari teman dumayku yang bernama Mika. Dia suka sekali menyebut dirinya elit dan akhirnya aku memboomingkan istilah tersebut, hingga berani mengakui diriku sebagai Ratu Elit. Sayangnya, elit saja tidak cukup untuk memuaskanku, maka kuubah saja kata itu menjadi elitz yang artinya super elit.

Elitz sebenarnya kupakai untuk mencerminkan diriku yang tidak suka menyerah dalam berbagai keadaan. Aku percaya bahwa sebenarnya kemampuan seseorang tidak terbatas. Hanya saja niat dan semangat yang kurang, kerap membatasi seseorang untuk berkembang.

Di masa lalu aku adalah orang yang selalu dipandang sebelah mata. Akulah manusia payah yang berusaha pantas untuk diperlakukan sama. Berbagai cara pun aku lakukan agar dapat menjadi lebih baik, hingga dapat berada di titik ini. Dan sekarang banyak yang bilang hidupku sempurna. Tapi, siapa sangka kalo semua aku dapatkan dengan penuh perjuangan. Jadi, tidak salah 'kan jika aku menyebut diriku elitz?

2. Nekad

Aku memang nekad, tetapi tidak dalam hal buruk. Seringkali ketika memiliki keinginan, aku akan bersikeras menggapainya. Meski saat itu banyak orang yang hendak mematahkan semangatku, tetapi tiada aku pedulikan. Katanya sih, aku gila. Mana mungkin bisa mencapai impianku itu, mimpi saja. Tapi, bagiku tidak ada yang tidak mungkin. Makanya aku berani ambil risiko atas jiwa nekadku ini, meski aku tahu semua akan bertambah runyam ketika aku gagal.

Oiya, kenekadanku biasanya aku perhitungkan dahulu. Jadi tidak sepenuhnya melakukan hal yang di luar nalar. Jika aku merasa tidak sanggup, aku akan berhenti di awal karena aku tidak suka melakukan hal yang sia-sia. 

Satu contoh kenekadanku adalah ketika aku ingin memberikan kado ke temanku, sedangkan aku tidak tahu di mana letak persis rumahnya. Aku dan dia memang satu kota, tetapi jaral rumah lumayan jauh dan rumah temanku itu hampir menuju luar kota. Ditambah lagi, aku jarang pergi ke daerah sana dan takut terjadi hal buruk di jalan. Tapi, aku bertekad tetap ke rumahnya. Masa ke jalan-jalan ke Jakarta sendiri berani, di kota sendiri tidak. 

Berbekal dari alamat rumah yang sempat dia bagi, aku mengamati aplikasi Maps, Trans Semarang, dan Gojek. Kira-kira mana rute yang harus aku pilih untuk sampai ke rumahnya dan mana ongkos yang lebih hemat di kantong. Ternyata aku harus turun di sebuah pasar lalu naik gojek ke rumah temanku. Perjalanan pun lebih jauh dari yang aku bayangkan, mana harus ganti bus berkali-kali. Belum lagi dari halte sampe ke rumahnya jauh nauzubillah. Tapi, untungnya semua lancar dan aku tidak tersesat. Meski setelah itu temanku terus mengataiku gila karena nekad datang ke rumahnya.

3. Nyebelin

Aku ini berisik, bawel, banyak tingkah, dan kadang suka baperan. Orang-orang pasti paham lah gimana barbarnya aku. Mau gimana lagi, ini kan diriku. Kalau mau menerimaku, ayolah kita temenan. Tapi, kalau enggak, aku juga enggak masalah.

Meski aku berusaha menjadi orang yang baik dan tidak suka cari gara-gara, tetapi belakangan aku sadar kalau aku suka seenaknya sendiri. Aku sering memaksa orang untuk mengertiku, tanpa mau tahu sisi lain dari setiap masalah yang datang. Padahal seharusnya aku lebih cepat bangkit karena punya banyak dorongan.

Aku juga heran, kok ada aja sih orang yang mau temenan sama aku. Aku aja kadang jijik sama sikapku. Tapi, aku selalu menghargai siapa pun yang mau tetap jadi temanku. Yang sabar ya ngadepin aku ☺

#30daysjournalingchallenge⁣⁣

#day9

⁣@classicalclover_

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

Posting Komentar