Langkahnya menderap, menyusuri lantai berkeramik putih gading di koridor SMA
Pelita Askara. Gadis itu menunduk dalam, tak acuh dengan tirai rambut tipis
kemerahan yang sedikit menghalangi pandangannya. Bisik-bisik mengudara. Lalu tawa
meledak, bagai granat yang sengaja dilemparkan ke tubuh ringkihnya.
Inge Nismara Sabina atau kerap
disapa Bina oleh sang ayah dan ibunda. Siswi normal yang mendambakan kehidupan
SMA yang sama normalnya, tanpa drama, apalagi musuh. Namun, kenyataan justru
selalu menamparnya, telak. Setiap kali tiba di sekolah, ia seolah menginjakkan
kaki di arena pertempuran. Salah sedikit, risiko menggunung.
“Ssstt ... Ndoro Putri kita lewat,” seru salah seorang siswi junior yang
berpapasan dengan Bina—ketika melewati kelas X-6— . Tanpa melihat pun, Bina dapat membayangkan serendah apa tatapan
yang ditujukan untuknya.
“Eh, eh, apa itu? Ada sesuatu di
roknya. Ampun, deh, lebih mirip karung beras!” Beberapa teman siswi itu terbahak,
sementara Bina hanya dapat menggigit bibir. Hatinya tertohok. Meski ini bukan yang
pertama kali, ia tetap merasa sakit. Setiap cerca, cacian, dan perilaku busuk sangat gencar
menghantuinya. Menikam setiap bilik jantungnya, membuat ia sering menyesali; Mengapa rambutnya kusut dan sulit
diatur? Mengapa wajahnya standar?
Mengapa, mengapa, mengapa?
Bina melesat masuk ke salah satu
kubikel toilet perempuan dengan membanting pintu. Ia membuka ritsleting,
melepas rok, lalu membaliknya. Gumpalan permen karet menempel bandel di sana.
Diputarnya keran air, sebelum menggosok noda itu hingga jemarinya kebas.
Matanya memanas.
Ya, Tuhan, kenapa harus seperti ini?
Penampilannya boleh saja tidak
semenarik murid lain. Kulit kusam, seragam longgar, wajah tanpa polesan. Namun, ia tetap manusia. Ingin punya
teman, disukai banyak orang, dan bebas menyukai seseorang. Atau setidaknya,
jika itu memang terlalu mewah, biarkan saja Bina sendiri. Jangan mengganggunya.
Atau mungkin
bila aku belum
pantas dianggap teman, ingat saja bahwa aku masih manusia. Dan tolong jangan
diam, apalagi tertawa, padahal kalian tahu ada permen karet di bangku yang
kududuki.
Air mengguyur dari dalam ember,
menggenangi sekitar sepatu hitamnya. Kadang memercik, membasahi seragam dan celana pendek
yang biasa dikenakannya sebagai lapisan dalam. Bina menyemburkan napas gusar. Digosok seberapa kuat pun, noda
permen karet tetap saja menyakiti mata. Tambah merusak daya tariknya yang
memang tidak pernah ada.
Bina ingin tertawa hampa.
Sebenarnya, ia bisa saja meminta rok
ganti ke Ruang Osis. Namun, Bina takut dijadikan bahan lelucon karena
mendadak gugup untuk berbicara. Melangkah ke sana pun terasa berat, gravitasi seolah menahannya.
Pasrah. Bina kembali mengenakan rok
yang bukan hanya dihiasi permen karet lagi, tetapi basah setelah digosoknya
dengan air. Gadis itu membiarkan kemejanya di luar. Syukurlah, panjang. Cukup
untuk menutupi bagian yang bernoda. Ia lalu meninggalkan toilet karena pelajaran pertama segera dimulai.
“Inge Nismara!” Bu Atika tiba-tiba
memanggilnya dari ruang guru. Wanita itu bergegas keluar lalu menyodorkan
selembar kertas kepada Bina. “Maaf, ini memang mendadak. Tapi, setelah Ibu mengevaluasi potensi
pembelajaranmu,
khususnya bahasa Indonesia, Ibu jadi yakin
untuk minta bantuanmu.”
Bina meraih kertas yang ditujukan
padanya, ternyata sebuah formulir Pentas Seni
SMA Pelita Askara akhir pekan nanti. Telapak tangannya mendadak dingin.
“Mi-minta tolong apa, ya, Bu?”
“Tunggu dulu,” Bu Atika
memperhatikan penampilan Bina, “Kenapa seragammu tidak dimasukkan, Inge? Itu
melanggar peraturan.”
“Oh.” Bina mendeham. Ia berbalik
lalu sedikit mengangkat seragamnya. Bu Atika tampak prihatin. “Ada noda, Bu.
Kecerobohanku karena tidak terlalu awas dengan sekitar. Aku tidak ingin
terlambat, makanya tidak sempat mengambil rok cadangan di Ruang Osis.”
Bu Atika mengangguk. Beliau mengulum
senyum. “Ya sudah, kalau begitu. Ibu ingin kamu membawakan pidato yang
bermanfaat saat pentas seni nanti. Itu formulir data yang harus kamu isi untuk
memudahkan pembawa acara kita. Dan jangan pasang muka tidak percaya diri seperti itu, karyamu selalu bagus. Ibu hanya bisa
mengandalkanmu, Inge. Berusahalah sebaik mungkin. Ibu kembali ke ruang guru dulu.”
Setelah Bu Atika pergi, Bina
mematung. Diberikan kepercayaan dalam sesuatu yang ia senangi, rasanya memang
menyenangkan. Namun, bagaimana jika nanti ia mengacau? Bagaimana jika hasilnya
justru mengecewakan? Ia tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang.
Memikirkannya saja, tubuh Bina mulai bergetar.
Sambil berjalan, Bina menimang-nimang tema apa
yang bagus untuk diangkat olehnya. Ia memasuki kelas dengan pikiran yang
melanglang buana. Suasana yang semula riuh, mendadak berubah hening dan
menegangkan. Bina tersadar. Puluhan pasang mata menyorotnya, seolah ia memiliki
dua kepala. Namun, hanya sebentar, sebelum mereka ramai kembali, tidak
mengacuhkannya yang sekadar angin lewat.
“Hari ini, aku ingin duduk bareng
Zea. Kamu tidak keberatan untuk pindah, ‘kan?” Baru saja Bina ingin meletakkan tasnya di atas meja, Gita
langsung datang dan menyerobot tempat duduknya.
Bina hanya dapat mengangguk. Lagi
pula, Gita tampak tidak membutuhkan persetujuannya. Zea, teman sebangku Bina,
juga tetap diam. Sama sekali tidak menahannya, meski ia berharap. Sedikit saja.
Namun, tidak ada. Ia seharusnya tahu bahwa selama ini Zea terpaksa duduk bersamanya.
Sambil menahan sakit hati, Bina terpaksa pindah ke bangku paling pojok di
belakang.
“Semalam, aku nonton film. Memang
sih dari laptop, bukan bioskop. Tapi, sensasinya bikin greget. Mana si cowok ganteng banget. Meleleh aku.”
“Serius, ganteng? Memangnya siapa
yang main?”
“Eh, coba dong lihat fotonya di
Instagram. Penasaran.”
Seperti yang sudah-sudah, Bina hanya
dapat menguping ketika siswi-siswi lain asyik menggosipkan sesuatu. Ingin
sekali ia ikut nimbrung, tetapi terlalu canggung dan takut salah omong. Bina
tidak mau lebih dikucilkan lagi. Ia melipat lengan di atas meja lalu
membaringkan kepalanya.
“Semuanya, tolong perhatian!” Suara
lantang itu menarik fokus setiap orang. Evan, sang ketua kelas, berdiri
membelakangi papan tulis. “Bu Ambar berhalangan hadir, jadi—”
“JAM KOSOOONG!!!”
Seisi kelas seolah berubah menjadi
pemandu sorak. Kabar jam kosong selalu menjadi angin segar bagi mereka. Karena selain kantuk yang suka
menerjang, mendengar guru menjelaskan materi tidak ada bedanya dengan memanggang
otak mereka secara perlahan.
“Tapi kita diberi tugas, halaman
72-78. Dikumpul langsung hari ini,” sambung Evan, menyelesaikan perkataannya yang
sempat terpenggal.
Teriakan yang semula berkobar pun berangsur-angsur padam, air muka mereka seketika berubah muram. Keluhan payah
dilayangkan oleh beberapa
murid, diikuti cicitan setuju dari murid yang lain. Dalam diam, Bina tertawa
sumbang. Menyadari betapa nikmatnya tidak memiliki teman karena ia dapat membunuh waktu kesepiannya dengan
mengerjakan soal-soal latihan tanpa diminta.
“Inge, tugasmu sudah selesai, ‘kan? Mana sini.” Salah seorang siswa
menghampiri mejanya. “Punyaku belum.”
Bina terdiam. Dulu, ia selalu
bersemangat meminjamkan semua buku tugasnya. Berharap dengan begitu, mereka
akan menganggapnya seorang teman. Namun, kelamaan iktikad baik gadis itu justru dibalas dengan empedu.
“Maaf, aku bikinnya tidak maksimal.
Pasti banyak yang salah,” gumamnya, sambil menunduk.
“Halah, alasan!” Siswa itu
menggebrak meja. Ia mengambil ransel Bina. Membongkar isinya, mengambil sebuah
buku bersampul cokelat lantas melempar kembali tas tersebut ke lantai. “Dasar cewek pelit!”
Sambil berpura-pura tuli terhadap makian tersebut, Bina memungut ranselnya kembali.
Ditepuk-tepuknya setiap sisi agar terhindar dari debu yang menempel. Jantung
gadis itu berdebar, kuat. Siswa tadi kini tertawa dan sibuk memanggil
teman-temannya untuk menyontek tugas buatan Bina. Mereka ... tidak punya perasaan.
“Si Inge itu, pantas tidak ada yang
mau jadi teman dia. Individualis, jelek, hidup pula!”
Tawa meledak. Seolah dihujam pisau,
hati Bina berdarah. Air matanya ingin mendobrak keluar. Namun … selalu, selalu, dan selalu ia mengingatkan dirinya bahwa ini bukan yang pertama kali. Hanya
saja, mau berapa kali pun Bina memaksa untuk terbiasa, nyatanya ia tidak akan
pernah bisa.
Darahnya tiba-tiba mendidih. Bina
bangkit. Dengan langkah-langkah cepat, ia menghampiri meja siswa tadi lalu
merampas bukunya hingga robek di bagian sampul. Seluruh pasang mata bertumpu
pada gadis itu, tidak
ada yang mampu membuka mulut untuk protes. Meski sebenarnya tubuh Bina bergetar
karena takut, ia bergerak mengikuti insting.
Bina berlari ke taman terbengkalai di bagian
belakang sekolah. Ia duduk di sebuah bangku, sambil menengadah ke arah langit
yang berawan. Tetes-tetes gemuk mengalir dari kedua matanya, melintasi pipi
hingga ke dagu, dan jatuh. Entah mengapa, baginya sangat sulit menemukan teman.
Jika semua orang berperilaku buruk seperti mereka. Lantas, teman macam apa yang tersisa
untuknya?
Ia tidak ingin punya teman yang
hanya berwujud manusia, tetapi tidak bertingkah layaknya seorang manusia.
Bina tertegun. Tiba-tiba saja ia
tahu, pidato seperti apa yang harus dibawakannya di pentas seni nanti.
***
“Sabina, kamu ingin ikut? Renata mau
main ke rumahku. Yuk, kamu juga, nanti kuantar pulang,” ucap seseorang,
membuyarkan lamunan Bina.
Menatap gadis yang duduk di
sampingnya, Bina tersenyum sendu. Nimas adalah salah satu teman yang dekat
dengannya ketika awal masuk perkuliahan. Setelah satu tahun berlalu, Bina
mengubur seluruh pengalaman buruknya di SMA. Ia tidak ingin ada yang tahu seberapa payah seorang Inge Nismara
Sabina dulu.
Sebelum masuk kuliah, Bina sempat
cemas. Meski ia sedikit trauma dengan label pertemanan, gadis itu tetap saja tidak
ingin sendirian. Bina tidak ingin ditindas lagi. Karenanya, meski sulit, ia
selalu berusaha untuk belajar menjadi lebih baik dalam hal berkomunikasi dan
menyesuaikan diri.
Usaha yang tidak mengkhianati hasil.
“Sabina, kamu dengar aku tidak? Hey, Sabina! Eh, tunggu dulu. Ini apa?” Nimas mengintip selembar
kertas yang terbaring di atas meja milik Bina. Matanya memicing, membaca tinta
yang mulai pudar di sana. “Naif. Berpenampilan seperti manusia itu cukup sederhana, tetapi berperilaku
layaknya seorang manusia itu berbeda.”
“Oh, ini pidatoku sewaktu pentas seni di SMA.” Bina tersenyum kecil. Ia lalu mengemas alat
tulis menulisnya ke dalam tas. “Temanya, Naif. Tidak sedikit orang yang
dimanfaatkan dan ditindas karena keluguannya. Sub-temanya yang panjang tadi. Karena meski kita
punya Hak Asasi Manusia, jika hanya hal-hal yang dianggap kasus remeh, sering
sekali dipandang sebelah mata. Bahkan, pura-pura buta. Mereka disebut manusia,
tetapi berperilaku selayaknya bukan manusia.”
Sejenak, Nimas merenung. Ia menatap
Bina dengan sorot menerawang, sebelum mengangguk paham. “Iya juga, ya? Tumben
kamu jenius. Bijak juga. Hehehe.”
Bina ikut terkekeh. Mereka pun
berjalan beriringan ke halaman parkir lalu menaiki motor Nimas. Sepanjang
perjalanan, meski keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, Bina merasa
lega. Segala beban, khawatir, dan cemas yang menggebu di hatinya, seolah lalu
terbawa angin yang menyapu lembut kulitnya.
Ketakutan gadis itu tidak terbukti
benar. Karena untuk kali ini, kenyataan justru memuaskan dahaganya akan
pertemanan. Bahkan bukan sekadar teman yang berperilaku pantas, Bina juga
diberi kesempatan untuk memiliki sahabat yang selalu ada dalam suka maupun
duka.
Bina bahagia.
“Kamu, kok, diam aja?”
“Canggung.”
Samar, Bina mendengar Nimas
menggerutu, sebelum berteriak menandingi suara motor. “Kamu ini! Aku, kan,
temanmu. Jadi, kamu harus nyaman sama aku. Kalau perlu, setiap hari aku
culik kamu buat main sejauh ini!”
Bina tertawa. Nimas, sahabatnya,
ada-ada saja. Penculikan yang direncanakan? Apa pun itu, Bina siap menghadapinya. Karena
penculikan yang dimaksudkan untuknya adalah hal yang lebih menyenangkan,
dibanding harus kembali jatuh dalam kegelapan tanpa teman.
luar biasaaaa nih :)
BalasHapusKasus bullying masih marak terjadi.
BalasHapusEntah apa yg merasuki para pembully
Bagus tulisannya ^^
BalasHapusKeren Kakak bagus sekali #semangat
BalasHapusSemoga selalu menulis seperti ini ya. Sangat bermanfaat🥰
BalasHapus*flex *flex
BalasHapusEnding yang mendalam
BalasHapusIni keren bgt ka. Nice.. Suka aku baca nya
BalasHapusSuuuiip.
BalasHapusBagus ku dibuat penasaran 👍
BalasHapusGaya bahasa dan aliran rasanya beda...suka banget...dari awal hingga akhir tulisan betah ^_^
BalasHapusini bagus banget banget
BalasHapusKeren ih. Cerpenku kebanyakn dialog:(
BalasHapusKeren, sampai panjang banget juga
BalasHapusAkhirnyaaaa, menghela nafas lega di akhir cerita.. hihi...
BalasHapusKeren, Fellaaaa😚😚😚