Jayaprana dan Layonsari: Hikmah Pilu dari Cinta Buta Sang Raja

22 komentar

Jayaprana begitu tampan dengan pakaian pernikahan khas Bali, bersama dengan sang istri—Layonsari—yang berpenampilan bak bidadari di malam pernikahannya. Kedua mempelai turun dari kereta dan mulai memasuki istana untuk meminta restu kepada Raja. Tawa bahagia atas cinta yang telah dipersatukan tiada luntur dari keduanya, meski dua insan yang baru menikah ini tidak saling mengenal sebelumnya.

Layonsari adalah putri dari Jero Bandawa dari Banjar Sekar, seorang penjual bunga yang Jayaprana temui di pasar beberapa waktu yang lalu. Atas kecantikan luar biasa yang dimiliki oleh Layonsari, Jayaprana pun terpikat kepada Layonsari dan memberitahu Raja jika ia ingin meminang wanita tersebut. Raja yang sebelumnya memerintahkan Jayaprana memilih satu gadis untuk dinikahi, langsung mengirimkan surat lamaran atas Jayaprana kepada Jero Bandawa kemudian meminta para perbekel membangun balai-balai untuk pernikahan mereka.

"Sendika Baginda Raja, hamba menghadap engkau bersama istri hamba untuk meminta restu. Mohon restuilah pernikahan kami," ucap Jayaprana sambil menunduk kepada Raja.

Raja menerima permintaan Jayaprana. "Bangunlah Jayaprana dan Layonsari, aku merestui pernikahan kalian. Jagalah cinta kalian hingga akhir hayat dan jangan menyerah atas ujian dalam pernikahan yang akan datang di kemudian hari."

Jayaprana dan Layonsari bangkit dari posisinya, kedua mempelai ini pun pergi dari hadapan Raja dan kembali ke rumah Jayaprana untuk melakukan malam pertama pernikahan.

Raja cukup berjasa dalam hidup Jayaprana, Raja-lah yang menggantikan sosok orang tua Jayaprana yang telah meninggal karena sebuah wabah penyakit di Desa Kalianget beberapa tahun silam. Raja sangat menyayangi Jayaprana dan menganggap pemuda itu sebagai anaknya sendiri.

Raja terkenal sangat bijaksana dalam memerintah Kerajaan Wanakeling Kalianget, itulah mengapa para pegawai kerajaan, perbekel, serta rakyatnya sangat mencintai Raja. Semua yang dilakukan Raja adalah untuk kepentingan rakyatnya. Bagi Raja, kepentingan rakyat adalah yang utama, hingga Raja tidak sempat memikirkan dirinya sendiri dengan mencari pengganti sang permaisuri.

Diam-diam Raja terus memperhatikan tempat Jayaprana dan Layonsari meminta doa restu. Bayangan kecantikan Layonsari mulai memenuhi isi kepala Raja, hingga membuat sang raja tidak dapat berpikir dengan waras. Raja akui bahwa wanita pilihan Jayaprana sangatlah menarik perhatian, kecantikannya tidak pernah Raja temui sebelumnya. Bahkan kecantikan tersebut tidak seharusnya dipersunting oleh seorang pesuruh kerajaan, seperti Jayaprana.

"Kecantikannya benar-benar membuatku terperanah, laki-laki mana pun pasti berhasrat memiliki istri secantik Layonsari. Hanya saja Jayaprana yang lebih beruntung karena berhasil mempersuntingnya." Raja bangkit dari singgasana. "Aku adalah seorang raja, pemimpin dari Kerajaan Wanakeling Kalianget. Apa pun yang aku perintahkan adalah keharusan yang perlu dituruti dan tidak seharusnya aku mengalami duka atas kecantikan Layonsari yang telah dipersunting oleh Jayaprana."

"Perbekel, tolong beritahu padaku bagaimana caranya aku dapat meminang Layonsari menjadi istriku," ucap sang prabu kepada para perbekel yang ada di ruang pertemuan.

Semua perbekel kaget mengetahui Raja menginginkan Layonsari yang tidak lain merupakan istri dari Jayaprana.

"Maaf, Baginda Raja, apabila hamba lancang. Mengapa Baginda menginginkan istri Jayaprana untuk Baginda persunting, bukankah Baginda Prabu sendiri yang meminta Jayaprana meminang seorang gadis untuk dijadikan istri?" tanya seorang perbekel kepada Raja.

"Semua itu benar, Perkebel. Aku yang telah memerintahkan agar Jayaprana memilih seorang gadis untuk dipersunting. Namun, tidak kukira bahwa pilihan Jayaprana akan seberkilau itu. Ketika melihat Layonsari, aku tiada hentinya terpikat pada pesonanya. Sebisa mungkin aku bersikap biasa di depan Jayaprana untuk menjaga perasaannya. Akan tetapi, sekarang mataku seperti dibutakan dengan kecantikan Layonsari. Indah dunia yang kulihat selama ini, tidaklah jauh lebih indah dari Layonsari. Semua tidak lagi bercahaya, aku mulai tersesat. Hanya dengan memiliki Layonsarilah yang dapat mengembalikan semua cahaya itu. Jadi, tolong beritahu padaku bagaimana cara memiliki Layonsari sebagai istriku."

Para perbekel tidak mengerti mengapa Raja berperilaku demikian hari ini. Menginginkan seorang wanita yang telah dipersunting orang lain, tentu bukan perilaku seorang Raja. Kepentingan rakyat yang selalu Raja pentingkan, tidak lagi tercermin pada diri Raja.

"Baginda Raja, ketahuilah bahwa di luar sana banyak sekali wanita cantik yang sudi Baginda persunting. Mereka dengan senang hati mengabdikan dirinya untuk Baginda. Tidakkah Baginda ingin mengadakan sayembara untuk memilih satu di antara sekian wanita cantik di luar sana?” usul seorang perbekel kepada Raja.

Raja menolak usulan tersebut, tidak satu wanita pun yang diinginkannya saat ini selain Layonsari.

"Ketahuilah, Baginda. Mempersunting Layonsari adalah hal yang sulit dilakukan karena baru satu hari Jayaprana menikah dengan Layonsari dan pernikahan tersebut dirayakan secara besar-besaran. Jika Baginda meminta Jayaprana memberikan Layonsari kepada Baginda, maka wibawa Baginda akan turun di mata Jayaprana dan sebagian besar rakyat. Hanya satu cara untuk memenuhi keinginan Baginda, yaitu kematian Jayaprana." Perbekel lain memberikan satu usulan yang tidak hanya mengagetkan Raja, tetapi juga para perbekel lainnya.

Satu-satunya cara untuk memiliki Layonsari sangat mutahil dilakukan, mengingat Raja sangat menyayangi Jayaprana seperti anaknya sendiri. Raja berusaha menimang usulan tersebut, tetapi pergolakan batinlah yang didapatkannya. Akhirnya Raja membubarkan seluruh perbekel ruang pertemuan untuk mengambil keputusan penting.

Meski melenyapkan Jayaprana merupakan satu-satunya hal yang dapat membuat Raja berhasil memiliki Layonsari, tetapi itu adalah hal yang sangat berat. Sedikit banyak Jayaprana berjasa untuk Kerajaan Wanakeling Kalianget dan Jayaprana telah berhasil mengalahkan banyak musuh untuk kepentingan kerajaan.

"Untuk memiliki sebuah permata, memang harus ada yang dikorbankan. Maafkan atas kelancangan bagindamu ini Jayaprana, tetapi aku memang harus memilih satu di antara dua hal yang sama-sama aku inginkan," ucap Raja, sudah berhasil mengambil keputusan yang semalaman mengganggu pikirannya.

Raja segera memanggil Patih Sawunggaling untuk menjalankan rencana pelenyapan Jayaprana. Semua siasat yang sempat disarankan oleh perbekel, diutarakannya kepada Patih Sawunggaling.

"Ampun, Baginda Raja, saya tidak dapat melakukannya. Melenyapkan Jayaprana yang tidak memiliki salah apa pun, sama saja mengingkari sumpah hamba," tolak Patih Sawunggaling.

Raja tampak bersedih atas jawaban Patih, "Ketahuilah, Patih, aku bisa mati jika tidak berhasil memiliki Layonsari sebagai permaisuri. Aku telanjur menyukai istri Jayaprana itu, hingga tidak dapat bepikir dengan benar. Jika engkau tidak ingin melakukannya untuk bagindamu, lakukanlah demi rakyat Wanakeling Kalianget yang dapat kehilangan pemimpinnya jika engkau tidak segera membinasakan Jayaprana."

Dengan berat hati, Patih Sawunggaling menerima perintah Raja untuk melenyapkan Jayaprana. Siasat yang telah disusun Raja kembali diutarakannya kepada Patih Sawunggaling dan sang Patih siap menjalankan titah Raja.

***

"Bli, semalam aku bermimpi ada banjir bandang yang menghanyutkan rumah kita. Tidak ada yang tersisa akibat bencana tersebut. Aku takut jika mimpi itu adalah sebuah pertanda bahwa akan ada bencana besar dalam rumah tangga kita. Jadi, kumohon, jangan pergi ke Teluk Terima, aku takut jika engkau tak pernah kembali," pinta Layonsari sambil membantu Jayaprana mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya dalam perjalanan ke Teluk Terima.

"Gek, ketahuilah bahwa kematian adalah kehendak Sang Hyang Widhi. Di mana pun aku berada, jika kematianku sudah dekat, aku tidak akan dapat mengelak. Aku paham akan kekhawatiranmu, tetapi doakan saja jika aku akan baik-baik saja di sana."

Layonsari tidak dapat berkata-kata lagi. Perasaannya sungguh tidak enak atas kepergian sang suami ke Teluk Terima, tetapi tugas dan kewajiban Jayaprana sebagai abdi kerajaan mengharuskan Jayaprana untuk pergi.

Sewaktu Jayaprana dipanggil ke istana dan diminta untuk menyelesaikan masalah yang ada di daerah perbatasan, Jayaprana langsung mengutarakannya kepada sang istri. Perjalanan tersebut akan dilakukannya bersama Patih Sawunggaling dan beberapa perbekel.

"Berusahalah untuk pulang, Bli, apa pun yang terjadi di sana. Aku akan setia menunggumu hingga engkau kembali. Jika ada hal buruk yang terjadi nanti, ingatlah bahwa ada aku yang masih sangat membutuhkanmu."

Jayaprana tersenyum ke arah Layonsari, kekhawatiran istrinya sangat beralasan. Jayaprana pun mencium kening istrinya dan berjanji bahwa dia akan kembali secepatnya.

***

Hari ini firasat buruk yang dikhawatirkan Layonsari mulai terlihat nyata. Teluk Terima dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada masalah besar seperti yang dikemukakan oleh Raja.

Dari arah belakang, Patih Sawunggaling berusaha menyerang Jayaprana agar Jayaprana dapat dilumpuhkan. Akan tetapi, Jayaprana terlalu cerdas untuk dapat dilumpuhkan begitu saja. Pria itu pun membalas serangan sang Patih dan balik melumpuhkannya. Beberapa perbekel yang ikut menyerangnya pun dapat ia pukul mundur dengan mudah.

"Apa yang engkau lakukan, Patih? Apa engkau sedang berusaha memperdayaku?" Jayaprana mematikan tangan Patih Sawunggaling hingga sang Patih tidak dapat memberikan perlawanan sedikit pun.

Seperti dugaan Patih Sawunggaling, membinasakan Jayaprana memang tidak mudah. Ilmu Jayaprana yang lebih tinggi, membuat Patih dapat balik dibinasakan Jayaprana hanya dalam satu pukulan. "Maafkan aku, Jayaprana, aku tidak bermaksud untuk melenyapkanmu. Aku hanya melakukan titah dari Raja."

Tubuh Jayaprana langsung melemas ketika mendengar bahwa Raja ingin melenyapkannya. Segera Jayaprana melepaskan tangan Patih Sawunggaling yang tadi sengaja ditahannya agar tidak kembali menyerang. Patih Sawunggaling meringis kesakitan.

Patih Sawunggaling memberikan sepucuk surat kepada Jayaprana. Jayaprana pun mengambil surat tersebut dan membacanya lamat-lamat.

Hai, engkau Jayaprana.
Manusia tiada guna.
Berjalan-jalanlah engkau.
Akulah yang memerintahkan membunuhmu.
Dosamu sangat besar.
Kau telah melampaui tingkah raja.
Istrimu sungguh milik orang besar.
Kuambil kujadikan istri raja.
Serahkanlah jiwamu sekarang.
Jangan engkau melawan.
Layonsari jangan kau kenang.
Kuperistri sampai akhir zaman.

Jayaprana menangis ketika membaca surat dari Raja. Tidak dia sangka bahwa hanya karena kecantikan Layonsari, Raja tega membinasakannya. Jika dulu Raja begitu arif ketika mengajarinya bagaimana cara menjadi abdi yang tangguh dalam menumpas lawan, kini ketangguhan itu tidak lagi Raja inginkan. Kasih sayang Raja kepada Jayaprana masih belia, entah hilang ke mana. Pelajaran berharga yang selalu Raja ajarkan kepada Jayaprana, membuat Jayaprana seakan tidak percaya bahwa nyawanya harus diberikan kepada seseorang yang pernah merawatnya ketika sudah tidak memiliki orang tua dan keluarga.

"Jika kematianku adalah keinginan Raja, maka lakukanlah, Patih. Aku siap merenggang nyawa demi titah Raja, sebagai baktiku kepadanya. Dahulu Raja yang merawatku dan memberikan pelajaran hidup kepadaku, Raja pula yang membuatku menjadi sosok yang memiliki tanggung jawab besar pada kerajaan. Sungguh, aku tidak menyangka jika istriku adalah yang diinginkan. Namun, sekarang aku rela melepaskan semuanya demi titah Raja.”

Jayaprana segera mencabut keris saktinya yang sering ia pergunakan untuk membunuh musuh-musuhnya. Kemudian pria itu menyerahkan keris tersebut kepada Patih Sawunggaling. "Bunuh aku dengan keris ini dan segera kabarkan kematianku kepada istriku agar ia tidak menunggu kepulanganku terlalu lama. Aku telah berjanji untuk kembali padanya secepat mungkin, tetapi titah Raja adalah hal utama yang harus kupenuhi."

Patih Sawunggaling juga ikut menangisi keputusan Raja yang menginginkan kematian Jayaprana hanya demi memiliki Layonsari. Dengan berat hati, sang Patih mengambil keris tersebut dan langsung diarahkannya ke tubuh Jayaprana.

Sret …

Darah mengalir deras dari tubuh Jayaprana, begitu segar dan menodai keris tajam itu hingga berwarna kemerahan. Patih Sawunggaling masih tidak menyangka bahwa dia telah melakukan hal ini.

"Ini adalah yang terbaik, Jayaprana," ucap Patih Sawunggaling sambil membuang keris tersebut ke semak-semak.

"Patih, apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau hanya melukaiku? Bukankah Raja memerintahmu untuk melenyapkanku? Lakukanlah titah Raja, jangan kasihan padaku. Aku rela mati demi kebahagiaan Raja."

Patih Sawunggaling bersimpuh di hadapan Jayaprana, dia tidak tega jika harus membunuh seorang yang tidak bersalah hanya karena cinta buta sang Raja. Seorang pemimpin yang bijak, tidak sepatutnya membunuh orang yang berjasa besar bagi kerajaannya hanya karena cinta yang dalam kepada seorang wanita.

"Raja saat ini sedang buta atas cintanya kepada Layonsari, itulah yang membuatnya tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar. Darah ini pasti akan dikenalinya sebagai darah yang keluar dari jantungmu karena ambisinya untuk melenyapkanmu. Tunggulah di sini dan akan kubawakan Layonsari kepadamu, akan kuatur bagaimana caranya agar Raja turut mengganggap Layonsari tiada. Semua untuk menembus dosaku sebagai Patih yang tidak berguna dalam menyadarkan rajanya," ucap Patih Sawunggaling kepada Jayaprana. Setelah mengatakan hal itu, kembali Patih mengambil keris Jayaprana untuk dibawa kepada Raja.

Jayaprana tidak habis pikir dengan apa yang telah terjadi, tetapi dia bersyukur karena masih diberi hidup oleh Sang Hyang Widhi. Mengenai luka yang ada di tangannya, tidak akan pernah diobatinya. Biar saja luka di tangannya menjadi bukti atas pengabdiannya kepada sang Raja.

***

"Layonsari tidak mungkin tiada. Layonsari seharusnya menjadi istriku. Bangunlah Layonsari, kecantikanmu hanya untukku sepanjang masa. Jangan engkau tutup matamu seperti itu."

Raja tidak hentinya histeris ketika melihat Layonsari terkapar dengan keris yang menancap di jantungnya. Darah Layonsari mengalir begitu derasnya, hingga membuat kulit halus wanita itu menjadi berubah merah.

Raja tidak kuasa melihat kepergian orang yang dicintainya. Keputusan melenyapkan Jayaprana, menghantarkannya pada kehilangan yang bertubi-tubi. Tidak hanya harus merelakan abdi setianya, Raja pun harus tertampar kenyataan karena tidak dapat memiliki Layonsari sebagai permaisuri. Keduanya telah meninggal bersama, atas keegoisan sang Raja.

Kematian Jayaprana dan Layonsari membuat kewarasan Raja menjadi hilang, mulai dibunuhlah semua anggota kerajaan yang berjenis kelamin laki-laki. Baginya semua laki-laki di istana adalah Jayaprana yang harus dibinasakan, termasuk Patih Sawunggaling dan para perbekel. Suasana di Kerajaan Wanakeling Kalianget pun menjadi tidak terkendali dan setiap harinya memakan banyak korban. Tidak hanya itu, para wanita yang ketakutan ketika dianggap sebagai Layonsari pun akhirnya dibunuh karena dianggap tidak melakukan titahnya.

Beberapa rakyat mengatur siasat untuk memasukkan Raja ke dalam penjara karena merasa terancam jiwanya. Di dalam penjara, Raja terus mengingau untuk menikahi layonsari. Raja yang arif dan bijaksana itu sekarang tidaklah lebih baik dari seorang binatang yang meraung-raung.

Rakyat yang tidak tahan dengan keadaan kerajaan yang kacau, memutuskan untuk meminta perlindungan ke kerajaan sebelah. Permintaan perlindungan itu tidak hanya memberikan tempat yang lebih layak terhadap rakyat Kalianget, tetapi juga mengundang kerajaan-kerajaan lain untuk menyerang Kerajaan Wanakeling Kalianget. Kini kerajaan mahsyur dengan raja yang bijaksana itu telah tiada dan berganti menjadi sebuah daerah takhlukan yang gersang.

Dari tempat lain, Jayaprana dan Layonsari hidup dengan bahagia tanpa ingin ikut campur lagi dalam urusan kerajaan mana pun. Meski menyayangkan bahwa kerajaan yang pernah sangat mereka cintai harus lenyap hanya karena cinta buta sang Raja kepada wanita bernama Layonsari, tetapi ini adalah sebuah hukuman untuk kerajaan tersebut agar lebih bijak lagi dalam melakukan titah sang Raja.

Meski Patih Sawunggaling telah tiada, tetapi pengorbanannya kepada Jayaprana dan Layonsari tidak akan lekang. Siasatnya untuk memanipulasi kematian Jayaprana dan Layonsari, telah menyelamatkan dua insan itu dari badai kematian. Cinta buta sang Raja dijadikan Patih sebagai celah untuk menyelamatkan Jayaprana dan Layonsari dari bencana pernikahan, meski akhirnya harus mengorbankan hal yang lebih besar.

Cinta sejati memiliki jalan sendiri untuk bahagia. Tidak semudah itu diperdaya oleh tahta, apalagi keinginan perorangan untuk memiliki cinta yang salah. Kebahagiaan Jayaprana dan Layonsari adalah sebuah bukti bahwa untuk bahagia, haruslah melewati pengorbanan yang berat. Dan sebuah kekuasaan, tidak selalu mengantarkan pada kesuksesan.

***

                Cerita ini diambil dari cerita rakyat ‘Jayaprana dan Layonsari’ dari Bali, yang sengaja diubah ending-nya oleh penulis untuk memenuhi tantangan pekan 4 ODOP batch 7.

.
.
.

                N.B.

                Perbekel: Kepala desa.
                Bli : Panggilan dari perempuan kepada laki-laki yang lebih tua darinya.
                Gek : Panggilan suami ke istrinya.

Terima kasih

Fela Khoirul
Seorang gadis penuh teka-teki yang sedang berusaha menjadi lebih baik, melalui tulisannya. Memiliki ketertarikan pada skincare, mental health, dan relationship.

Related Posts

22 komentar

  1. Sediih kak '( cinta membutakan yaa :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak, makanya harus pintar-pintar memilih Cinta

      Hapus
  2. Duh, duh ceritanya menusuk jiwa kak.

    BalasHapus
  3. Duh, duh ceritanya menusuk jiwa kak.

    BalasHapus
  4. End creditnya so sweet ... 😥

    BalasHapus
  5. Ckckck.. raja yang arif bisa berubah hanya karena persaan cintanya (cinta buta) 😁

    BalasHapus
  6. Setuju sekali dengan pesannya 👍

    BalasHapus
  7. Keren...endingnya bagus..meskipun patihnya tiada

    BalasHapus
  8. Lagi lagi tentang cinta, selalu berbekas begitu mendalam, di hati setiap para perindu.. Nice, kak...

    BalasHapus

Posting Komentar